Rabu, 18 Juni 2014

Adversity Quotient (AQ) Lebih Penting daripada IQ



Dalam kehidupan kita seringkali kita menganggap orang yang IQ nya tinggi akan meraih sukses dalam kehidupanya. Namun IQ hanya mengukur tingkat kecerdasanya saja. Para ilmuwan telah meneliti berbagai faktor penting yang berkontribusi pada kesuksesan hidup. Dari penelitian itu ditemukanlah faktor-faktor penting penyumbang kesuksesan hidup orang. Dengan ditemukanya faktor penentu sukses itu, dunia pendidikan juga ikut berlomba-lomba dan berkontemplasi untuk merumuskan filosofi, paradigma, strategi, dan metodologi. Rumusan tersebut digunakan kepada peserta didik untuk mendaki kesuksesan hidup.
            Faktor signifikan yang telah mendapat perhatian yang luas ialah IQ dan EQ. kelahiran EQ membuat
arah baru pendidikan secara luas. sebab, dalam banyak penilitian terbukti IQ tidak lagi menjadi satu-satunya prediktor sukses peserta didik di  masa datang. Ketika IQ didewa-dewakan, pengembangan kurikulum hampir di seluruh dunia pada era jayanya IQ selalu berorientasi pada upaya bagaimana mengemas program pembelajaran yang bisa memberikan kecerdasan otak secara maksimal pada peserta didik.
            Setelah EQ ditemukan oleh Goleman, kurikulum harus dan mutlak memperhatikan faktor-faktor non kognitif, seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, pengendalian emosi, dan memahami emosi orang lain. Bahkan, Goleman mengklaim IQ hanya berkontribusi 20% terhadap kesuksesan peserta didik. 80% ditentukan oleh faktor lain di luar IQ, dimana EQ masuk di dalamnya secara signifikan. Oleh karena itu, jika suatu bangsa ingin membuat kurikulum yang bisa mengantarkan peserta didik menjadi sukses, kurikulum itu juga harus memberikan menu belajar yang mencakup aspek lainya seperti sikap, perilaku, kepribadian, keberagaman, budi pekerti dan kecerdasan otot.
            Dua tahun kemudian setelah ditemukanya EQ, munculah Adversity Quotient (AQ) oleh Paul Stoltz (1997). Pada hakikatnya AQ merupakan kapasitas seseorang untuk menghadapi berbagai bentuk tekanan dan ketidaknyamanan dalam situasi tertentu. Orang yang AQ-nya tinggi akan tahan banting, dalam arti fisik, mental, dan kejernihan berpikir. Ia bisa segera kembali ke keadaan normal setelah berhadapan dengan berbagai tekanan dan tantangan. Sebaliknya, orang yang AQ rendah akan selalu menyalahkan lingkungan ketika gagal sehingga dia tak bisa mengambil keputusan untuk sukses. Orang hidup tak ada yang bebas dari tekanan dan tantangan. Kalau semua tekanan itu berhasil dilewati, sukselah mereka. Kalau gagal reduplah suasana hati dan pikiran saat itu.
            Oleh sebab itu, kapasistas untuk bisa menghadapi berbagai tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak mereka duduk di bangku sekolah. Dengan cara seperti itu, siswa akan bisa merespons positif terhadap tekanan yang akan memberi jalan kepada kesuksesan hidup kelak. Jadi, Belajar tidak cukup dengan pendekatan menyenangkan semata. Karena hidup identik dengan tantangan. Maka siswa harus bisa tertantang agar dapat membangun AQ-nya.

Sumber:
KOMPAS, Artikel: Kurikulum Pendidikan Haruslah Memberi Tantagan bagi Siswa, 15 Februari 2013