Rabu, 06 Maret 2013

Emansipasi wanita di kacamata globalisasi

Raden Ajeng Kartini. Sejak SD atau bahkan sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak, kita sudah diperkenalkan oleh guru-guru kita akan sosok yang sangat inspiratif dan luar biasa ini. Sosok pemberani yang dengan lantang membela kaum wanita agar terbebas dan terlepas dari belenggu penjajahan atas diri mereka, memperjuangkan hak-hak kaum wanita, mempelopori emansipasi wanita, serta menyuarakan dengan dengan lantang bahwa “wanita tak semestinya dijajah pria”.
            Perkembangan zaman membuat gerakan emansipasi banyak dilakukan oleh wanita-wanita di Indonesia. Tidak sedikit wanita yang mencetak prestasi dan mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia dengan prestasi-prestasi yang diperolehnya. Semakin lama semakin pudar kesenjangan kedudukan yang ada antara pria dan wanita. Tidak jarang kita temukan kedudukan wanita yang justru lebih tinggi daripada kedudukan pria. Saat ini perlakuan berbeda terhadap pria dan wanita sudah jarang dilakukan.
            Tapi, semakin lama mulai terjadi penyimpangan makna emansipasi yang dilakukan oleh wanita-wanita yang hidup di era globalisasi seperti saat ini. Emansipasi tidak lagi digunakan untuk menyejajarkan kedudukan pria dan wanita, emansipasi justru digunakan untuk membuktikan bahwa kaum wanita lebih hebat daripada kaum pria. Hal ini jelas bukan suatu kesejajaran kedudukan. Bukan hanya itu, tidak sedikit wanita yang memiliki pola hidup bebas mengatas namakan emansipasi wanita, tidak ingin tindakan yang dilakukannya dianggap salah hanya karena ia seorang wanita.
            Penyimpangan makna emansipasi wanita di era globalisasi ini lama-lama akan membuat melekatnya stigma kasar baru yang menggantikan stigma “kasur, sumur, dapur” pada diri wanita-wanita saat ini. Jelas tidak ada yang menginginkan perjuangan Kartini untuk menyejajarkan kedudukan antara pria dan wanita menjadi sia-sia karena tindakan-tindakan yang melenceng dari makna emansipasi yang sesungguhnya. Jadi mari kita luruskan kembali makna emansipasi di era globalisasi ini, jangan sampai penyimpangan makna yang terjadi membuat wanita kembali dipandang sebelah mata oleh masyarak
Daftar pustaka:
 http://jurnalistikhimasiera.blogspot.com/2012/04/kartini-dan-emansipasinya.html