Minggu, 29 April 2012

Dampak Penyelenggaraan RSBI


Pembentukan Sekolah RSBI
Dari tahun ke tahun, sudah banyak sekolah yang memiliki brand “RSBI” untuk nama baik sekolah mereka, entah itu dengan jalan yang baik maupun jalan yang buruk. Namun perlu diketahui apakah perlu pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara menerapkan program RSBI?  Hal ini akan membuat para peserta pentyelenggara RSBI menjadi kebingungan. Termasuk siswa yang ditambah dengan pperubahan psikologisnya ketika sekolahnya menerapkan system Internasional
Apakah landasan pemerintah menjalankan dan mengadakan program RSBI? Berikut ini merupakan landasan pemebetukan Sekolah RSBI .
 Landasan Pembentukan RSBI
  • Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 ps 50
  • Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 : Pemerintahan Pusat dan Daerah
  • Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 : Kewenangan Pemerintah (Pusat) dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom
  • Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 : Program Pembangunan Nasional
  • Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 : Standar Nasional Pendidikan (SNP) ps 61
  • Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 :  Standar Isi
  • Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 :  Standar kompetensi Lulusan
  • Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 : Implementasi Kepmendiknas Nomor 22 dan 23 Tahun 2006
  • Renstras Depdiknas: th 2009/2010 tdp 450 rintisan SBI SMP
Dampak Psikologis Siswa Terhadap kebijakan RSBI
Kebijakan RSBI merupakan salah satu kebijakan sekolah RSMABI, namun dibalik itu semua dapat mengakibatkan perubahan terhadap psikologis sebagian siswa RSMABI. Berikut ini merupakan perubahan psikologis siswa terhadap berbagai bidang kebijakan RSBI
 Bidang Penggunaan Bahasa
            Menurut UUD 1945 pasal 36 menyatakan bahwa Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia artinya selama tempat itu masih berada did lam kedaulatan NKRI maka tentulah harusmenggunakan bahasa pengantar yang diresmikan  yaitu Bahasa Indonesia. Hal ini telah jelas melanggar konstitusi Negara. Selain itu hal ini membuat siswa yang telah terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia menjadi bingung ketika materi disampaikan. Sehingga timbulah rasa kecewa, frustasi, dan kurang percaya diri akibat ketika mereka mendapat ulangan dibawah KKM kemudian berlanjut karena seorang siswa telah biasa mendapat nilai jelek, maka ia pun tidak memiliki semangat belajar dan daya saing yang rendah. Selain itu tidak semua guru RSMABI mengerti tentang semua Bahasa Inggris, sehingga ketika mereka berbicara Bahasa Inggris, hal ini justru membuat para siswa bingung akibat daripada penggunaan Bahasa Inggris yang tidak tepat.
 Bidang Target Prestasi Siswa
            Salah satu syarat kelayakan RSMABI adalah prestasi siswa RSMABI  yang biasanya harus selalu meningkat bila ingin layak menjadi sebutan RSMABI, biasanya setiap sekolah RSMABI telah menetapkan tarfet prestasi yang harus dicapai, namun demikian bukankah hal ini merupakan suatu pemaksaan yang melanggar Hak Asasi Manusia? Ketika hal ini terjadi, seorang siswa akan berubah menjadi seorang yang egois karena ia tidak ingin prestasinya disaingi oleh orang lain, dan Ia pun akan berubah menjadi pemarah ketika dirinya tidak menerima prestasi yang diperoleh karena telah dianggap gagal. Mungkin hal ini memang bisa saja terjadi akibat paksaan, tuntutan seorang guru terhadap siswa untuk meraih target prestasi karena takut brand RSBInya dicabut.
 Bidang Materi Ajar
            Umumnya sekolah RSBI menerapkan kurikulum materi ajar dari luar negeri, namun pertanyaanya adalah apakah kurikulum materi ajar di negeri ini kurang bagus ketimbang dari luar negeri? Sebenarnya tiap Negara memiliki kharakteristik masing-masing agar dapat dipahami materi yang diajarkan selain itu materi yang diujikan di Ujian Nasional maupun Ujian SMPTN pun juga menggunakan kurikulum nasional. Pertanyaanya, perlukah menggunakan kurikulum luar negeri? Selain itu beberapa siswa akan dihadapi materi-materi yang tidak terbiasa olehnya untuk diserap karena merasa asing dengan materi ajar yang berasal dari luar negeri. Akibatnya siswa mengalami kesulitan saat belajar sehingga berdampak stress, depresi, dan emosional yang berlebih akibat ia tidak mampu meraih nilai ulangan yang baik.
Bidang Pemilihan jurusan
            Biasanya sekolah RSMABI memiliki target untuk memasuki siswanya ke jurusan tertentu, kebanyakan jurusan MIPA. Ketika seseorang yang memiliki cita-cita yang tidak ada hubunganya sama sekali dengan jurusan MIPA, apakah mungkin dia harus dipaksa masuk jurusan MIPA? Tentu saja tidak. Hal ini pun juga melanggar HAM. Hal ini membuat siswa yang berminat masuk jurusan selain MIPA menjadi pemalas dikarenakan ia sama sekali tidak berminat masuk jurusan MIPA.selain itu ia pun juga merasa stress akibat menerima materi yang tidak diinginkannya.
Obyek (Sasaran) Evaluasi Pendidikan
Dimaksud dengan obyek pendidikan atau sasaran evaluasi pendidikan ialah segala sesuatu yang bertalian dengan kegiatan atau proses pendidikan yang dijadikan titik pusat perhatian atau pengamatan,karena pihak penilai atau evaluator ingin memperoleh informasi tentang kegiatan atau proses pendidikan tersebut

            Salah satu cara untuk mengenal  atau mengetahui obyek dari evaluasi pendidikan dengan jalan menyorotinya dari 3 segi,yaitu dari segi input,tranformasi dan output,dimana input akan kita pakai sebagai pengumpulan bahan  dan output sebagai hasil pengelolaannya.
Ditilik dari segi input ini,maka obyek dari evaluasi pendidikan meliputi tiga aspek,yaitu:1.Aspek kemampuan ,2.Aspek kepribadian dan 3.Aspek sikap.

   Aspek Kemampuan
Jika diibaratkan bahwa seorang ibu rumah tangga ingin membuat rending daging sapi,sudah,sudah barang tentu ibu rumah tangga tersebut akan memilih dan membeli daging yang cocok dan sesuai untuk dimasak menjadi rending demikianlah dengan dunia pendidikan disekolah.Untuk dapat diterima dalam peserta didik,harus mempunyai kemampuan yang sesuai dan memadai sehingga dalam proses pembelajaran dalam program pendidikan tertentu itu nantinya peserta didik tidak akan mengalami banyak hambatan atau kesulitan.

Sehubungan dengan itu maka bekal kemampuan yang dimiliki oleh para peserta didik perlu dievaluasi terlebih dahulu,guna mengetahui sampai sejauh mana kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik dalam mengikuti program pendidikan



    Aspek Kepribadian
            Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri seseorang, dan menampakkan bentuknya dalam tingkah laku. Sebelum mengikuti program pendidikan tertentu, para calon peserta didik perlu terlebih dahulu di evaluasi kepribadiannya masing-masing, sebab baik buruknya kepribadian mereka secara psikologis akan dapat mempengaruhi keberhasilan mereka dalam mengikuti program pendidikan tertentu.
Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui atau mengungkap kepribadian seseorang adalah dengan jalan menggunakan tes kepribadian (personality test).
    Aspek Sikap
            Sikap, pada dasarnya adalah merupakan bagian dari tingkah laku manusia, sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Namun karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol dan sangat dibutuhkan dalam pergaulan, maka diperolehnya informasi mengenai sikap seseorang adalah penting sekali. Karena itu, aspek sikap tersebut perlu dinilai atau di evaluasi terlebih dahulu bagi para calon peserta didik sebelum mengikuti program pendidikan tertentu. Untuk menilai sikap tersebut digunakan alat berupa tes sikap (attitude test) atau sering dikenal skala sikap (attitude scale) sebab tes tersebut berbentuk skala.
            Contoh mengenai tes sikap yang diungkapkan dengan menggunakan skala sikap adalah : tenggang rasa, sikap kebangsaan, sikap keagamaan, dan lain-lain.

            Selanjutnya apabila disoroti dari segi transformasi ,maka obyek dari evaluasi pendidikan itu meliputi kurikulum atau materi pelajaran,metode pengajaran dan teknik penilaian,sarana atau media pendidikan,system administrasi,guru dan unsure-unsur personal lainya yang terlibat dalam proses pendidikan.

            Transformasi yang dapat diibaratkan sebagai pengelola yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi barang jadi,akan memegang peranan yang sangat penting.Ia dapat menjadi factor penentu yang dapat menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Karena itu obyek-obyek yang termasuk dalam transformasi itu perlu dinilai. Atau di evaluasi secara berkesinambungan. Kurikulum yang tidak sejalan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, dapat menyebabkan terjadinya kegagalan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Penggunaan metode-metode pengajaran yang kurang tepat teknik penilaian hasil belajar yang tidak memperhatikan prinsip-prinsip dasar evaluasi itu sendiri, sarana penndidikan yang tidak atau kurang memadai, sistem administrasi yang bersifat acak-acakan, pimpinan lembaga pendidikan, tenaga pengajar, dan karyawan yang tidak professional, kesemuanya itu akan mempengaruhi proses belajar mengajar. Untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian atau prestasi belajar yang diraih oleh para peserta didik itu dipergunakan alat berupa tes prestasi belajar atau tes hasil belajar yang biasa dikenal dengan istilah tes pencapaian (achievement test).


 Solusi
v  Belajar lebih focus sesuai dengan minat dan bakat siswa
v  Kurikulum pilihan sesuai dengan minat dan bakat siswa
v  Mengubah kebijakan sesuai dengan konstitusi
v  Membuat kebijakan perlu diperhatikan perkembangan siswa
v  Mengubah system pendidikan nasional yang lebih baik lagi