Senin, 16 September 2013

Sulitnya Orang Indonesia Menghormati dan Menghargai Pemimpin



Dalam kehidupan kita ini, tentunya ada seorang manusia selaku pemimpin yang harus bisa mengatur kehidupan kita, bila tidak ada pemimpin disini, kehidupan kita dalam suatu ruang lingkup kita akan tidak beraturan. Pemimpin ialah orang yang memiliki hak  untuk mengatur pengikutnya agar dapat meciptakan lingkungan yang kondusif.  Pemimpin ialah orang yang diberi amanah dan tanggung jawab untuk melaksanakan dan mengemban tugas yang diberikan kepadanya. Dalam Hal ini, pemerintahan dalam suatu Negara pemimpin dapat diposisikan sebagai seorang presiden, perdana menteri, raja, kaisar atau siapapun pemegang kekuasaan tertinggi di suatu negera tergantung bentuk sistem pemerintahan yang berlaku di negara tersebut, dapat disimpulkan pemimpin adalah pelaku utama kesuksesan suatu negara.
Mengingat seorang pemimpin adalah pelaku utama kesuksesan suatu Negara. Maka sebetulnya kita sebagai warga negara seharusnya patut untuk patuh, dan menghormati apa yang pemimpin kita perintahkan agar dapat tercapainya tujuan bersama. Namun bagaimanakah sikap orang Indonesia terhadap pemimpinya? Saat ini negara kita sedang krisis kepercayaan terhadap para pemimpinnya. Faktanya saat ini kita dengan mudah dapat melihat Masyarakat Indonesia menggelar aksi demo dimana saja, mereka menggelar demo dengan membuat acara foto pemimpin diinjak – injak, dibakar, fasilitas negara dirusak. Mereka merasa bahwa pemimpin kita seolah – olah sudah tidak memiliki peranan penting dalam negara ini, Dalam hal ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia memang sudah tidak adalagi rasa hormat terhadap pemimpin. Sudah 68 tahun Negara kita merdeka, apakah mereka tidak melihat selama ini, hasil kinerja pemerintah kita selama 68 tahun?
Memang banyak opini yang mengatakan, sudah 68 tahun Indonesia merdeka, Namun hasil kinerja daripada para pemimpin kita tidak begitu bawa banyak perubahan. Masih banyak warga Indonesia yang kehidupanya masih kurang di bawah standar kelayakan. Masih banyak anak yang putus sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. Di Negara ini Korupsi makin merajalela, Partai yang mengagungkan nilai-nilai keagamaan pun korupsi, hasil daripada tambang kita di nikmati bangsa asing. Kemudian di jual lagi kepada kita dengan harga yang lebih mahal. Sebetulnya kita memiliki banyak orang hebat, yang dari segi intelektual sudah tidak dapat diragukan lagi, tetapi sayangnya kita masih krisis nilai moralitas. Kita belum memiliki nilai – nilai integritas dan loyalitas. Itulah yang membuat bangsa ini menjadi terhambat.
Mari kita bandingkan dengan bangsa Jepang, Di Jepang, Loyalitas adalah segalanya dan telah dianggap rasional oleh mereka. Bangsa Jepang dapat saling menghargai satu sama lain dimana seorang bawahan dapat menghormati kinerja pemimpinnya atau atasanya dan seorang pemimpin dapat menghargai aspirasi bawahanya. Mereka adalah bangsa yang nasionalis. Ini juga dapat di lihat dari kinerja pemerintahannya bagaimana pemerintah Jepang sangat memerhatikan kesejahteraan rakyatnya, mereka lebih mengoptimalkan tenaga kerja lokal dibanding tenaga kerja asing. Ketika Jepang di bombardir oleh Negara-negara sekutu yang menyebabkan Negara Jepang hancur berantakan. Apa yang diperintahkan oleh kaisar Jepang waktu itu? Mengumpulkan guru-guru yang masih hidup. Mungkin mendengar perintahnya saja cukup aneh, dikarenakan seharusnya Negara dengan kondisi seperti itu seharusnya mengumpulkan bantuan, dana, dan tempat pengungsian, atau bahkan memindahkan mayat-mayat. Tetapi mereka tidak peduli itu, orang Jepang selalu patuh kepada kaisar dan melaksanakan perintah kaisar tersebut hingga dalam waktu yang sesaat Jepang menjadi Negara yang menguasai perekonomian Negara-negara di dunia termasuk Indonesia.
Kesimpulanya Loyalitas terhadap pemimpin ialah segalanya untuk kemajuan suatu bangsa. Hal inilah yang belum dapat kita temukan di Indonesia kita masih kekurangan akan nilai – nilai loyalitas yang dimana akibatnya berdampak sebagai penghambat kemajuan bangsa. Oleh karena itu, tidak mungkin Tanpa Pemimpin suatu bangsa bisa maju seperti Bangsa Jepang. Karena pemimpin ialah orang yang menuntun rakyatnya untuk mencapai cita-cita bersama, sedangkan tugas rakyat ialah mematuhi, menghargai, serta menyumbangkan aspirsinya, Oleh Karenanya seorang kepemimpinan yang sukses ialah seorang pemimpin yang dapat memegang kepercayaan, menjalankan amanah serta bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. Tetapi juga harus mendapat dukungan dan aspirasi dari para rakyat demi kemajuan bersama.

Minggu, 08 September 2013

Tips dan Trik Memilih jurusan



Berikut ini, beberapa tips dan trik memilih jurusan di PTN
1.       Menyesuaikan bakat, minat, dan cita-cita
Memilih jurusan sebaiknya sesuai dengan minat dan bakat kalian. Akan tetapi, tidak sedikit siswa yang memilih jurusan atas saran orangtua. Padahal, tidak sesuai dengan bakatnya. Sebagai contoh, siswa yang tidak menyukai hitung-hitungan diminta masuk jurusan Matematika. Ingat, apa pun yang kita jalani harus dialandasi rasa suka. Karena dengan rasa suka kita dapat mengikuti kuliah dengan baik.
2.       Daya tampung jurusan/ peluang diterima
Daya tampung untuk jurusan favorit biasanya terbataas dan banyak diperebutkan oleh banyak orang. Sebagai contoh, program studi pendidikan dokter. Oleh sebab itu, kalian harus memilih pilihan kedua pada jurusan yang benar-benar sesuai kemampuan.
3.       Lokasi dan Biaya
Bagi masyaraka ekonomi kebawah, lokasi dan biaya pendidikan sangat memengaruhi. Ingat, kuliah S1 ditempuh kurang lebih 4 tahun. Dimana kalian akan membutuhakan biaya untuk hidup, pengeuaran yang berhubungan dengan studi, dan lain-lain. Oleh karena itu, jika dana terbatas pilihlah lokasi kuliah yang dekat dengan tempat tinggal atau lokasi luar kota yang biaya hidupnya lebih murah dan biaya kuliah yang relative tidak mahal. Atau sekarang ini banyak program beasiswa yang ditawarkan baik itu dari kampus itu sendiri maupun dari lembaga lain.
4.       Prospek kerja yang memadai
Carilah informasi mengenai jurusan yang kalian pilih. Informasi tersebut bias anda dapatkan dari internet, orangtua, guru, saudara, senior, atau mahasiswa yang masuk jurusan tersebut, Dsb. Dan ingat, jangan mudah terpengaruh oleh teman.
Mudah-mudahan informasi yang saya berikan ini dapt bermanfaat bagi anda semua dan tetap semangat untuk berjuang demi SBMPTN, oke?

Rabu, 21 Agustus 2013

Keenganan Budaya Mengantri di Indonesia


Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna di antara ciptaannya yang lain.Karena,manusia memiliki akal pikiran dan hawa nafsu  yang tidak di miliki oleh makhluk lainnya.Manusia sangat erat hubungannya dengan kebudayaan .Hal itu karena manusia adalah bagian dari kebudayaan.Manusia pula yang menciptakan serta menjaga kebudayaan dan tanpa ada campur tangan dari manusia maka suatu kebudayaan itu akan punah. Karena pada hakikatnya budaya adalah suatu sistem cara hidup oleh manusia. Oleh karena itu tidak salah jika di katakan kebudayaan itu muncul bersamaan dengan munculnya manusia. Termasuk cara hidup manusia dalam menhadapi antrian atau yang disebut dengan budaya mengantri.
Pada Hakikatnya Budaya Mengantri ialah perbuatan yang sederhana, mudah, dan bermanfaat. Satu perbuatan mengandung berbagai manfaat yang luar biasa, yaitu hanya dengan mengantre akan melatih sikap dan sifat sabar, melatih diri untuk tidak egois, belajar tertib, belajar menghargai orang lain, berlaku sopan, menanamkan rasa malu untuk mengambil hak orang lain, menanamkan sikap tepat waktu, menampakkan budaya rapi, dan lain sebagainya.
Namun, sering kita simak di Jalan Raya, terutama di jalan yang lalu-lintasnya cukup padat oleh kendaraan bermotor dimana jalan yang dipenuhi oleh berbagai macam kendaraan seperti Sepeda Motor, Mobil, Mikrolet, Bus mulai dari Bus berukuran kecil sampai berukuran besar memenuhi jalan ketika sedang lampu merah. Akan tetapi, kita seringkali melihat, betapa tidak beraturnya antrian kendaraan yang sedang dalam posisi lampu merah. Di persimpangan yang dalam kondisi macet sedemikian rupa, justru bertambah lebih macet dikarenakan para pengemudi yang tidak sabar mengantri justru mereka harus mengantri dalam waktu yang lebih lama dan para pengemudi saling tidak mau mengalah untuk mendapatkan posisi yang mereka inginkan.
Hampir setiap hari di saat persimpangan jalan sedang macet. pengemudi lebih suka mengambil posisi yang sebetulnya justru tempat yang tidak diperbolehkan bagi para pengemudi, misalnya: para pengemudi kendaraan bermotor menempati lajur kanannya yang sebetulnya lajur tersebut adalah lajur untuk lawan arahnya. Karena lajur lawan arahnya dikuasai oleh pengemudi kendaraan bermotor yang tidak bersabar, akhirnya tidak ada jalan bagi kendaraan lawan arah untuk mendapatkan kesempatan jalan. Dan dapat disimpulkan tidak ada kesempatan bagi pengguna jalan untuk berjalan di jalan tersebut. Penyebabnya, para pengemudi kendaraan bermotor pada awalnya ingin medahului lewat lajur kanan namun karena di depan terdapat kendaraan yang juga mengantri di persimpangan, akibatnya kendaraan yang berada di persimpangan tidak bisa melewati jalan tersebut, dan kemudian disusul oleh kendaraan bermotor yang tidak bersabar mendahului dan menempati lajur kananya sampai menghalangi jalan bagi arah lawanya. Dan terjadilah kemacetan berkepanjangan yang disebabkan para pengemudi yang tidak bersabar.
Bahkan sering kita saksikan para pengemudi yang tidak bersabar dalam menghadapi antrian lebih suka menempati lajur trotoar yang padahal seharusnya trotoar tersebut dikhususkan untuk pejalan kaki. Para pejalan kaki pun merasa tidak nyaman dengan aktivitas jalan mereka oleh para pengemudi kendaraan yang menguasai tempat mereka. Terkadang perbuatan seperti inipun juga beresiko terjadi kecelakaan tabrak lari pengendara kendaraan bermotor denagn pejalan kaki. Dalam kondisi seperti ini, pejalan kaki merasa tidak ada tempat yang nyaman untuk berjalan kaki di pinggir jalan raya.
Lebih buruknya, Para pengendara yang kehilangan akal untuk bersabar dalam antrian justru melintas di daerah taman yang terdapat di jalur hijau sekitar jalan tersebut. Hal ini justru membuat taman tersebut menjadi rusak dan menjadi tidak sedap dipandang mata oleh para pengguna jalan tersebut terutama wisatawan yang sedang berlibur di tempat itu. Padahal taman di jalan tersebut didanai dengan jumlah dana yang tidak kecil dimana sumber dana tersebut berasal dari pajak masyarakat, dan kini hasil dari pajak tersebut dirusak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Berbeda dengan di negara luar, budaya mengantri diterapkan dengan sangat baik. Salah satunya seperti di Taiwan. Tidak hanya dikenal sebagai negara yang memiliki keunggulan dalam riset dan inovasi produk, tetapi negara ini juga dikenal sebagai Master Antri. Masyarakat Taiwan membudidayakan antre dengan sangat baik. Mereka bahkan mengantri secara otomatis tanpa harus ada yang mengarahkan atau mengatur barisan antrean. Dimana pun, kapanpun, dan apapun mereka secara otomatis membentuk barisan antrean secara disiplin.
Dalam hal mengantre kita juga bisa meniru segerombolan semut. Hewan kecil ini sangat piawai dalam mengatur barisannya. Tampak rapi dan teratur ketika para serangga kecil ini merayap. Semestinya kita malu dengan semut. Hewan yang tiada pikiran saja mampu bersikap teratur, malah sebaliknya kita yang diberikan akal tidak mempunyai kesadaran tinggi untuk hidup teratur.
Sangat Indah terlihat jika di negara kita juga menerapkan kedisiplinan yang tinggi. Tidak adanya kerapian tanpa adanya budaya antre. Kenyataannya negara kita sangat jauh tertinggal dalam hal ketaatan pada peraturan terutama dalam kedisiplinan mengantre. Masih banyak rakyat Indonesia yang mendominasi kepentingan individu. Hal tersebut terlihat ketika mengantre di jalan raya. Contohnya saja di daerah Jakarta yang tidak jarang mengalami kemacetan lalu lintas terlebih ketika pagi dan sore hari. Semua orang terlihat terbaru-buru seakan dikejar waktu, bahkan saat lampu merah pengemudi berhenti melewati batas garis pemberhentian. Jika ada yang tidak melewati batas garis pemberhentian, para pengemudi yang berada di belakang akan berklakson ria menyuruh untuk maju atau ada yang langsung menyelip ke depan. Terlebih ketika lampu hijau menyala, suara-suara klekson kendaraan akan bersahut-sahutan dan tak sedikit pula yang menerobos jalan. Hal-hal tersebut sangat membahayakan baik si pengendara maupun semua pengguna jalan. Itu hanyalah sepenggal fakta yang terjadi di sekitar kita, belum yang terjadi ketika mengantri pembayaran rekening listrik, mengantre di loket rumah sakit, loket kereta api, dan lain sebagainya.
Keenganan budaya antre ini tidak lain juga disebabkan oleh membudayanya jam karet di Indonesia. Orang Indonesia sebagian besar meremehkan waktu sehingga tidak memperhitungkan waktu untuk mengantri. Karena merasa terburu-buru dan dikejar waktu akibat membiasakan jam karet, kedisiplinan dalam mengatre pun tidak lagi dihiraukan.
Hal yang perlu dilakukan dalam membudi daya mengantri adalah dengan membiasakan diri untuk sabar dan tidak egois. Tanpa disadari, hal-hal kecil positif yang kita biasakan, akan banyak bermanfaat dalam berbagai situasi, terutama dalam mengantre. Selain itu pula kebiasaan dan kesadaran tersebut harus ditamankan dalam diri, sebab pada hakikatnya kebiasaan merupakan pengulangan yang berpola. Buang secara mengulang hal yang negatif yang pasti merugikan, ulangi pola yang positif, maka kebiasaan akan menjadi kekuatan yang membangun.







DAFTAR PUSTAKA :