Tampilkan postingan dengan label negeri kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label negeri kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 September 2013

Mengapa Begitu sulit Orang Indonesia Menghargai Pemimpin?



Dalam kehidupan kita, tentunya ada seorang manusia yang harus bisa mengatur kehidupan kita, bila tidak maka kehidupan kita dalam suatu lingkungan tidak akan beraturan. Orang yang berhak dan berkewajiban mengatur kehidupan kita disebut dengan pemimpin. Pemimpin itu bisa kita artikan mulai dari hal yang terkecil seperti, Ketua Kelas, Ketua Kelompok, dan sebagainya. Seperti yang kita ketahui bahwa tugas daripada seorang Ketua Kelas yaitu menciptakan suasana kelas yang rukun, tertib, kondusif dan sesuai dengan harapan yang ingin dicapai oleh semua warga kelas. Begitu pula tugas seorang Ketua Kelompok yang mengarahkan anggota kelompoknya untuk mengerjakan tugas kelompoknya dengan baik dan lancar. Dari pembahasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa tugas dari seorang pemimpin yaitu mengarahkan anggotanya sesuai dengan tujuan yang diharapkan bersama.
Kesuksesan hanya dapat terjadi bila tujuan bersama suatu kelompok dapat terpenuhi atau telah tercapai. Suatu negara bisa dikatakan sukses apabila tujuan bersama daripada negara tersebut dapat tercapai. Mengingat seorang pemimpin negara merupakan pengarah warga negaranya untuk mencapai tujuan bersama suatu negara. Maka sebetulnya kita sebagai warga negara seharusnya patut untuk patuh, dan menghormati apa yang pemimpin kita perintahkan. Namun bagaimanakah sikap bangsa kita terhadap pemimpin? Sudahkah kita memiliki rasa menghormati dan menghargai terhadap pemimpin kita?
Sering kita lihat di media massa, masyarakat Indonesia sering sekali mengadakan demo-demo massa yang sifatnya memberontak kekuasaan pemerintahan yang sedang berwenang. Dan tentunya hal tersebut sering terjadi karena banyaknya warga negara yang tidak menempuh pendidikan formal dan kurangnya penghidupan yang layak tentu akan membuat masyarakat yang seperti ini menjadi mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak yang ingin melawan pemerintahan yang berwenang. Hal ini dikarenakan kurangnya ilmu pengetahuan dalam menanggapi pernyataan atau pendapat dari orang lain atau karena kurangnya penghidupan layak mereka bisa saja menerima bantuan keuangan yang tentunya dengan syarat harus memenuhi perintah dari orang yang memberikan uang. Hanya dengan simpati dan sugesti saja orang tersebut bisa menuruti pendapat orang yang ingin melawan kedudukan pemerintahan yang sedang berwenang tanpa memikirkan kebenaran pendapat orang tersebut. Hal inilah yang dapat membuat masyarakat Indonesia membuat suatu gerakan yang lebih radikal seperti gerakan kudeta pemerintahan dan bahkan gerakan separatis yang telah terjadi di beberapa daerah Indonesia yang masih ditelantarkan oleh pemerintah negara Indonesia itu sendiri.
Selain itu, sering kita lihat di media massa yang mengabarkan pemerintah negara ini yang terlibat kasus KKN, bagaimana masyarakat kita mau patuh terhadap pemimpin yang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kebijakannya hanyalah menguntungkan kelompok dan pribadinya, sedangkan yang lainya begitu banyak dirugikan. Kalau pemimpinya tidak peduli kepada rakyatnya, untuk apa rakyatnya harus peduli dan menghormati pemimpinya?
Jadi, perlunya pemerintah Indonesia lebih serius lagi dalam menyelenggarakan pendidikan formal di negara ini serta perlunya masyarakat Indonesia untuk sadar betapa pentingnya menjalani masa pendidikan formal. Karena hanya dengan menempuh pendidikan, masyarakat menjadi lebih kritis dalam menghadapi permasalahan dan dalam menerima informasi dari orang lain. Dengan berpikir kritis, masyarakat dapat mencari solusi permasalahan yang tepat dan baik tanpa harus dengan cara melakukan gerakan pemberontakan kepada pemerintahan serta terciptanya masyarakat yang peduli dengan pemerintahanya dengan cara menyampaikan aspirasi yang dapat membangun bangsa ini. Pendidikan juga bisa menjadi sarana untuk menciptakan moralitas dan rasa loyalitas terhadap pemimpin dengan melalui program latihan dasar kepemimpinan yang biasanya dilaksanakan oleh organisasi yang sifatnya kesiswaan seperti OSIS dan sebagainya. Selain dengan pendidikan, penghidupan yang layak pun juga harus menjadi perhatian bagi pemerintah Indonesia. Karena dengan menyejahterakan masyarakat yang kurang mampu dan masyarakat pada daerah terlantar dapat menyebabkan masyarakat tersebut menjadi lebih hormat dan peduli dengan pemerintah. Karena merasa dirinya telah didukung dan dibantu oleh pemerintah, maka dengan rasa simpati serta sugesti masayarakat tersebut akan merasa dirinya harus menghargai pemimpinya juga.
Kesimpulanya, kesuksesan suatu negara adalah negara yang telah berhasil mencapai tujuanya. Karena tugas dari pemimpin adalah mengarahkan warga negara untuk menggapai tujuan negaranya. maka sudah sepatutnya kita tanamakan rasa hormat kita kepada pemimpin. Karena kesuksesan suatu negara hanya dapat dicapai bila adanya pemimpin dan dukungan partisipasi rakyat untuk mencapai tujuan suatu negara.

Senin, 16 September 2013

Sulitnya Orang Indonesia Menghormati dan Menghargai Pemimpin



Dalam kehidupan kita ini, tentunya ada seorang manusia selaku pemimpin yang harus bisa mengatur kehidupan kita, bila tidak ada pemimpin disini, kehidupan kita dalam suatu ruang lingkup kita akan tidak beraturan. Pemimpin ialah orang yang memiliki hak  untuk mengatur pengikutnya agar dapat meciptakan lingkungan yang kondusif.  Pemimpin ialah orang yang diberi amanah dan tanggung jawab untuk melaksanakan dan mengemban tugas yang diberikan kepadanya. Dalam Hal ini, pemerintahan dalam suatu Negara pemimpin dapat diposisikan sebagai seorang presiden, perdana menteri, raja, kaisar atau siapapun pemegang kekuasaan tertinggi di suatu negera tergantung bentuk sistem pemerintahan yang berlaku di negara tersebut, dapat disimpulkan pemimpin adalah pelaku utama kesuksesan suatu negara.
Mengingat seorang pemimpin adalah pelaku utama kesuksesan suatu Negara. Maka sebetulnya kita sebagai warga negara seharusnya patut untuk patuh, dan menghormati apa yang pemimpin kita perintahkan agar dapat tercapainya tujuan bersama. Namun bagaimanakah sikap orang Indonesia terhadap pemimpinya? Saat ini negara kita sedang krisis kepercayaan terhadap para pemimpinnya. Faktanya saat ini kita dengan mudah dapat melihat Masyarakat Indonesia menggelar aksi demo dimana saja, mereka menggelar demo dengan membuat acara foto pemimpin diinjak – injak, dibakar, fasilitas negara dirusak. Mereka merasa bahwa pemimpin kita seolah – olah sudah tidak memiliki peranan penting dalam negara ini, Dalam hal ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia memang sudah tidak adalagi rasa hormat terhadap pemimpin. Sudah 68 tahun Negara kita merdeka, apakah mereka tidak melihat selama ini, hasil kinerja pemerintah kita selama 68 tahun?
Memang banyak opini yang mengatakan, sudah 68 tahun Indonesia merdeka, Namun hasil kinerja daripada para pemimpin kita tidak begitu bawa banyak perubahan. Masih banyak warga Indonesia yang kehidupanya masih kurang di bawah standar kelayakan. Masih banyak anak yang putus sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. Di Negara ini Korupsi makin merajalela, Partai yang mengagungkan nilai-nilai keagamaan pun korupsi, hasil daripada tambang kita di nikmati bangsa asing. Kemudian di jual lagi kepada kita dengan harga yang lebih mahal. Sebetulnya kita memiliki banyak orang hebat, yang dari segi intelektual sudah tidak dapat diragukan lagi, tetapi sayangnya kita masih krisis nilai moralitas. Kita belum memiliki nilai – nilai integritas dan loyalitas. Itulah yang membuat bangsa ini menjadi terhambat.
Mari kita bandingkan dengan bangsa Jepang, Di Jepang, Loyalitas adalah segalanya dan telah dianggap rasional oleh mereka. Bangsa Jepang dapat saling menghargai satu sama lain dimana seorang bawahan dapat menghormati kinerja pemimpinnya atau atasanya dan seorang pemimpin dapat menghargai aspirasi bawahanya. Mereka adalah bangsa yang nasionalis. Ini juga dapat di lihat dari kinerja pemerintahannya bagaimana pemerintah Jepang sangat memerhatikan kesejahteraan rakyatnya, mereka lebih mengoptimalkan tenaga kerja lokal dibanding tenaga kerja asing. Ketika Jepang di bombardir oleh Negara-negara sekutu yang menyebabkan Negara Jepang hancur berantakan. Apa yang diperintahkan oleh kaisar Jepang waktu itu? Mengumpulkan guru-guru yang masih hidup. Mungkin mendengar perintahnya saja cukup aneh, dikarenakan seharusnya Negara dengan kondisi seperti itu seharusnya mengumpulkan bantuan, dana, dan tempat pengungsian, atau bahkan memindahkan mayat-mayat. Tetapi mereka tidak peduli itu, orang Jepang selalu patuh kepada kaisar dan melaksanakan perintah kaisar tersebut hingga dalam waktu yang sesaat Jepang menjadi Negara yang menguasai perekonomian Negara-negara di dunia termasuk Indonesia.
Kesimpulanya Loyalitas terhadap pemimpin ialah segalanya untuk kemajuan suatu bangsa. Hal inilah yang belum dapat kita temukan di Indonesia kita masih kekurangan akan nilai – nilai loyalitas yang dimana akibatnya berdampak sebagai penghambat kemajuan bangsa. Oleh karena itu, tidak mungkin Tanpa Pemimpin suatu bangsa bisa maju seperti Bangsa Jepang. Karena pemimpin ialah orang yang menuntun rakyatnya untuk mencapai cita-cita bersama, sedangkan tugas rakyat ialah mematuhi, menghargai, serta menyumbangkan aspirsinya, Oleh Karenanya seorang kepemimpinan yang sukses ialah seorang pemimpin yang dapat memegang kepercayaan, menjalankan amanah serta bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. Tetapi juga harus mendapat dukungan dan aspirasi dari para rakyat demi kemajuan bersama.

Kamis, 27 Juni 2013

Pro dan Kontra Pemberian BLSM dan Kenaikan BBM

Keputusan pemerintah untuk mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menuai banyak argumen dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari kalangan legislatif, eksekutif hingga masyarakat itu sendiri. Tak pelak momen ini terkadang menjadi kesempatan politik untuk saling beradu argumen, baik dari pihak oposisi maupun koalisi. Masing-masing pihak menganggap pendapat yang dikemukakan adalah yang paling tepat untuk rakyat. Namun adakah maksud lain dibalik argumen yang diungkapkan?

Pandangan Pro

Tatang Hernas Soerawidjaja, dosen Program Studi Teknik Kimia ITB yang juga merupakan anggota Dewan Riset Nasional (Komisi Energi) dan Wakil Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan (METI) menyatakan bahwa pada praktiknya tujuan hakiki dari pemberian subsidi BBM di Indonesia tidak tercapai dan telah salah kaprah, serta merupakan penghamburan sia-sia anggaran negara.
“Minyak bumi dan bahan bakar fosil sebagai konsumsi pokok masyarakat kian langka dan mahal, dan masyarakat pun seharusnya siap akan pergeseran pemanfaatan sumber energi primer dari bahan bakar fosil ke sumber-sumber terbarukan, “ jelas Tatang.
Senada dengan Tatang, Aditya Prasetyo, Ketua Divisi Kajian Energi Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB mengutarakan bahwa kebijakan subsidi BBM kini sudah tidak relevan dan cacat.
“Berdasarkan data hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), 40% masyarakat menengah kebawah hanya memperoleh manfaat sebesar 13,92% saja dari subsidi BBM. Sedangkan penikmat subsidi BBM adalah 20% orang mampu dan berada di Indonesia dengan bagian 48,44%,” cetus Aditya.
Aditya berpendapat, subsidi BBM hanya akan mendorong prilaku konsumtif di masyarakat dan menyebabkan masyarakat mengkonsumsi BBM dengan boros dan ceroboh. Harga BBM yang realistis akan mendorong penghematan dan proses konversi ke sumber energi lain yang lebih bersih.

Pandangan Kontra

Bertolak belakang dengan pendapat diatas, beberapa elemen mahasiswa menolak kenaikan harga BBM. Salah satunya aksi teatrikal pembuatan replika kuburan di sekitar Bundaran Videotron di Jalan Pahlawan, Semarang, Jawa Tengah.
Bellagia Ady Nugroho, sebagai koordinator aksi mengatakan, pembangunan kuburan sebagai sindiran atas matinya hati nurani pemerintah SBY dan DPR, karena telah menaikkan harga BBM. Bellagia pula menambahkan alasan pemerintah menaikkan harga BBM untuk menekan subsidi dalam APBN dinilai tidak masuk akal.
Seharusnya pemerintah lebih mengedepankan efek kenaikan harga BBM terhadap rakyat kecil dibandingkan dengan APBN.
“Menekan subsidi hanya alasan tipu-tipu pemerintah agar masyarakat bisa menerima kenaikan BBM. Kami menolak keras hal ini,” ungkapnya.
Penolakan juga diungkapkan oleh Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. Dia menjelaskan, dampak dari kenaikan BBM sangat terasa oleh masyarakat kalangan bawah, terlebih solusi Bantuan Langsung Subsidi Masyarakat (BLSM) dirasa kurang menyasar dan bersifat sementara saja.
“Bantuan Langsung (BLSM) itu sifatnya hanya sesaat, kalau kenaikan BBM itu berlaku selamanya. Jadi bantuan langsung itu tidak ada gunanya sama sekali,” paparnya.
Sementara itu Sekretaris Kabinet (Seskab), Dipo Alam, pasca persetujuan DPR terhadap APBN-P 2013 yang berarti penyesuaian harga BBM akan segera dilakukan oleh Pemerintah mengatakan bahwa pengurangan subsidi BBM tidak hanya sekedar menyehatkan postur APBN, namun juga mengubah alokasi subsidi langsung kepada masyarakat miskin jauh lebih besar.
“Selama ini sebagian besar subsidi BBM justru dinikmati oleh kelompok masyarakat yang memiliki kendaraan mobil, yang tergolong kaya. Dengan mengurangi subsidi BBM, Pemerintah justru menambah alokasi anggaran subsidi langsung kepada masyarakat miskin,”  ujar Seskab.
Pemerintah, lanjut Seskab, mengubah subsidi BBM yang tidak tepat sasaran itu menjadi subsidi yang lebih tepat dengan cara memberikan langsung kepada masyarakat miskin.
“Program-program perlindungan sosial yang selama bertahun-tahun ini sudah berjalan, seperti program Raskin,  Program Keluarga Harapan (PKH), dan Bantuan Siswa Miskin (BSM) diperluas cakupannya dan ditingkatkan besarannya,”  ungkap Seskab.

Selain Itu, Bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) sebagai kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai tak lebih sebagai drama politik jelang Pemilu 2014. BLSM pun dinilai tak beda dengan bantuan langsung tunai (BLT) menjelang Pemilu 2009.

“Kenaikan BBM dan pemberian BLSM itu menjadi drama politik, seolah-seolah menjadi suatu pembenar untuk menunjukkan iklan politik bahwa rakyat memang perlu BLSM,” kata Wakil Sekretaris Jendral PDI Perjuangan Hasto Kristianto, usai menjadi pembicara dialog kebangsaan ‘Mewujudkan Pemilu 2014 Bersih, Berkualitas, dan Bermartabat’ yang diselenggarakan Bawaslu di Hotel Grand Sahid Jaya, Selasa (25/6/2013). 

Hasto mengungkapkan, sebelum pelaksanaan Pemilu 2009 lalu, pemerintah juga menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2008. Ketika itu, pemerintah pun mengucurkan BLT sebagai kompensasi. “Pada bulan juni 2008-februari 2009 diberikanlah dana BLT yang jumlahnya begitu besar, di situ motif politiknya begitu besar daripada kompensasi kepada rakyat akibat kenaikan BBM,” tegasnya. 

Menurut Hasto, kenaikan harga BBM juga lebih disebabkan karena tata kelola kebijakan keuangan pemerintah yang berantakan, bukan karena imbas kenaikan harga minyak dunia. Kalaupun harga BBM harus naik dan masyarakat perlu kompensasi, tambah dia, bentuk yang tepat bukan BLSM melainkan pembukaan lapangan kerja baru.

BLSM, tegas Hasto, secara tidak langsung mendidik masyarakat untuk menjadi pribadi malas. Terlebih, BLSM yang diberikan pemerintah sifatnya hanya sementara. “Konteksnya, menjadi tugas pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat, bukan untuk mengkompensasikan penderitaan rakyat yang sifatnya hanya sementara,” papar dia.


Berbagai argumen ini memperlihatkan bahwa pro kontra memang selalu terjadi. Terlebih momen mendekati pemilu, BBM selalu saja menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Masing-masing pihak saling mengklaim pendapatnya demi kepentingan rakyat. Tidak tahu ada apa dibalik argumen masing-masing pihak, pureuntuk kesejahteraan rakyat atau malah menyengsarakan rakyat. Mari kita kawal bersama, bagaimana yang akan terjadi pasca kenaikan BBM bersamaan dengan disertujuinya APBN-P 2013. BBM naik bukan akhir dari segalanya.

Sumber :
http://politik.kompasiana.com/2013/06/25/pro-kontra-penikmat-subsidi-bbm-adakah-kepentingan-terselubung-572097.html
http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/1630/1/Pro.Kontra.Kenaikan.Harga.BBM.

Senin, 03 Juni 2013

Saatnya Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Internasional Baru

Banyak alasan sebuah bahasa dijadikan bahasa internasional. Kemajuan Iptek atau kekuatan politik bisa menyebabkan suatu bahasa dijadikan bahasa internasional. Saat ini minat masyarakat dunia terhadap bahasa Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hingga saat ini telah ada sekitar 67 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia, khususnya di Perguruan Tinggi. Bahkan ada wacana kalau Bahasa Indonesia ingin dijadikan Bahasa Pengantar di Kawasan ASEAN.

Mungkinkah bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional? Kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Seperti yang diungkapkan Profesor Dr Handayani, seorang Guru Besar Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), bahasa Indonesia punya potensi digunakan sebagai bahasa internasional, pasalnya saat ini bahasa Indonesia juga dipelajari di lebih dari 45 negara di dunia. beberapa diantaranya adalah Australia, Jepang, Vietnam, Mesir, dan Italia. hal ini membuat bahasa Indonesia masuk ke dalam peringkat 10 besar bahasa yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
Prof Dr Handayani mencontohkan, di Australia, sekitar 500 sekolah telah mengadopsi bahasa Indonesia sebagai program studinya. Inilah alasan kuat kenapa kemungkinan bahasa Indonesia juga berpeluang menjadi bahasa internasional. Bahkan ia menambahkan saat ini hampir seluruh perguruan tinggi di ASEAN turut membuka program studi bahasa Indonesia. “Baru-baru ini di salah satu perguruan tinggi di Filipina juga telah membuka program studi Bahasa Indonesia, begitu juga di Inggris,” ujarnya.
Dengan semakin dikenalnya bahasa Indonesia, Prof Dr Handayani berharap kedepannya bahasa Indonesia semakin banyak dipelajari sehingga menjadi salah satu bahasa yang digunakan sebagai bahasa internasional. “Tidak heran kalau beberapa tahun ke depan, bahasa Indonesia akan banyak dipelajari dan menjadi bahasa internasional.” tandasnya.
Bahasa Indonesia adalah kebanggan bangsa Indonesia, untuk itu sebagai generasi muda Indonesia penggunaan bahasa Indonesia harus lebih diminati dengan terus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Masuknya serapan asing, singkatan kata atau bahasa gaul kerap kali ‘mencederai’ makna atau arti kata yang sebenarnya. Banggalah dengan bahasa Indonesia, karena dengan begitu eksistensi bangsa semakin bersinar, sehingga mampu bersaing dan diakui dunia.

Ada lima alasan kenapa bahasa indonesia patut dibanggakan :
1. Bahasa Sopan dari Melayu
Dalam sejarah tertuliskan bahasa indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Menurut buku yang ditulis Jan Huygen dalam bukunya Itinerario disebutkan bahwa bahasa Melayu terkenal dengan bahasa yang paling sopan di kawasan timur. Meski bahasa Melayu dulu dan bahasa Indonesia kini sudah berbeda, tapi kebanggannya tetap sama karena sampai dengan saat ini bahasa indonesia masih menjadi bahasa yang mulia.
2. Bahasa paling mudah
Berbeda dengan bahasa asing lainnya, bahasa indonesia merupakan bahasa yang mudah karena bahasa indonesia memiliki tingkatan kata atau kalimat yang sangat mudah dimengerti.  Setiap pengucapan kata/ kalimat untuk semua situasi, meskipun terjadi kemarin, sekarang ataupun lusa, kata yang digunakan tetap sama.
Contoh kalimat:
Kemarin :  Ibu membeli jeruk kemarin sore
Sekarang : Ibu membeli jeruk saat ini
Dari kalimat diatas coba bandingkan dengan bahasa Inggris beriku ini
Kemarin : Yesterday my mother bought some oranges
Sekarang : My mother buy some oranges.

Dan sekarang lihatlah grafik lama belajar mempelajari bahasa:
 
Bisa terlihat bahwa untuk mempelajari bahasa indonesia adalah 900 jam  atau setara 38 hari atau 1 bulan 1 Minggu, dibandingkan bahasa arab, cina, korea, jepang yang membutuhkan waktu 2200 jam atau setara 92 hari atau 3 bulan.

Keunggulan lain yang menjadi potensi adalah penulisan bahasa Indonesia menggunakan huruf latin yang universal. Ini tentu berbeda dengan bahasa lain misalnya China, Arab, Jepang, atau korea. Maka dalam mempelajarinya tidaklah terlalu rumit atau membututuhkan waktu yang cukup lama. Walaupun menggunakan huruf latin, dalam penulisan tertentu bahasa Indonesia tidak menggunakan huruf yang bersifat khas seperti yang diterapkan di beberapa negara eropa
3. Bahasa Indonesia unik
Meski berasal dari Melayu, namun bahasa indonesia punya karakteristik yang berbeda, baik dari susunan kata maupun pengucapannya. Malaysia juga terkenal dengan bahasa Melayu-nya, meski aksen dan artinya hampir mirip, bahasa indonesia lebih enak didengar. Misalnya : berputar (indonesia), pusing-pusing (Malaysia) yang dalam bahasa indonesia pusing artinya adalah sakit kepala.
4. Bahasa yang sangat kaya
Jika diurutkan sejarah, seperti diketahui bahasa Melayu adalah bahasa pasar. Bahasa pasar tercipta dari gabungan bahasa-bahasa pedagang dari seluruh penjuru dunia yang dulu sempat singgah di Melayu. Karena pada awalnya bahasa indonesia adalah bentukan dari bahasa pedagang dari seluruh dunia, maka bahasa indonesia memiliki ribuan kata yang diserap dari bahasa beberapa bangsa di dunia. Penambahan kosakata baru, baik diserap dari bahasa asing maupun dari bahasa daerah, hingga pada akhirnya ejaannya disempurnakan.  Proses itulah yang menyebabkan bahasa indonesia begitu kaya.
5. Bahasa Indonesia kian dikenal bangsa lain
Tak hanya di Indonesia, bangsa lain pun ternyata berminat belajar dan mengenal bahasa Indonesia. Australia contohnya, mereka tertarik dengan bahasa indonesia karena mengagumi budaya indonesia. Sebagai warga indonesia seharusnya kita bangga dengan kekayaan leluhur, jadi kemungkinan bahasa indonesia nantinya dijadikan bahasa internasional bisa saja  terwujud.

Namun ternyata terdapat tantangan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional terlihat dari berbagai aspek. Pertama rendah nya kualitas sumber daya manusia indonesia menyebabkan susahnya mengembangkan bahasa Indonesia. Dalam penggunaan bahasa banyak orang Indonesia yang belum memperdulikan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini akan menghambat pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Kedua yaitu paradigma masyarakat tentang penggunaan bahasa asing sebagai gengsi sosial. Sebuah tren penggunaan bahasa daerah dikalahkan oleh bahasa Indonesia dan penggunaan bahasa Indonesia dikalahkan oleh bahasa Inggris. Orang banyak berfikir bahwa menggunakan bahasa asing yaitu bahasa inggris menunjukan gengsi sosial yang tinggi dan dianggap orang berpendidikan. Tren ini dapat dilihat dengan berkembangnya sekolah-sekolah berstandar internasioanal yang menggunakan bahasa Inggris sebagi bahasa peengantar.
Tantangan lain dari bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional yaitu daya tawar politik dan ekonomi yang rendah. Kesiapan bahasa menjadi bahasa Internasional yang digunakan banyak negara bergantung pada seberapa besar ketergantungan terhadap bahasa tersebut dalam berbagai aspek, seperti ekonomi, sosial, dan budaya. Seberapa besar peran bahasa Indonesia dalam kegiatan perekonomian dunia Misalnya menggunakan bahasa Indonesia lebih memudahkan kegiatan perekonomian.

Berdasarkan artikel diatas, tidak memungkinkan bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa Internasional. sesuai pepatah, untuk menjadi sesuatu yang besar, berasal dari sesuatu yang kecil dulu . Artinya, untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional, harus tumbuh rasa sayang, menjaga, dan mencintai bahasa indonesia itu dari diri sendiri itu, dengan cara menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar, dan memberikan citra baik pada dunia bahwa bahasa indonesia layak sebagai bahasa intrnasional.

Jadi Pesan saya adalah "BERBANGGALAH BERBAHASA INDONESIA"