Tampilkan postingan dengan label Fenomena Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena Sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2013

Peran Komunikasi dalam Membentuk Kelompok dan Pemimpin yang Efektif



Suatu kelompok dibentuk untuk bisa mencapai suatu tujuan yang diharapkan dan dilakukan bersama dengan cara menentukan solusi yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam menentukan solusi yang digunakan untuk mencapai tujuan, tentu setiap anggota kelompok masing-masing menemukan solusi
tersendiri. Untuk menyampaikan solusi kepada semua anggota kelompok tersebut, pasti setiap anggota akan menyampaikan pendapatnya masing-masing. Ketika setiap anggota menyampaikan pendapatnya, maka setiap individu tersebut telah melakukan kegiatan komunikasi. Komunikasi akan terasa efektif apabila pesan yang disampaikan oleh individu yang menyampaikan  itu jelas maksud dan tujuanya serta disampaikan dengan cara yang berkenan di hati orang yang menerima pesan, sehingga si penerima pesan bisa menanggapi dengan baik. Komunikasi yang efektif bisa menghindarkan antar individu terjadi kesalahpahaman. Dengan demikian komunikasi yang efektif bisa menghindarkan kelompok tersebut dari konflik.
Dalam mencapai tujuan suatu kelompok, haruslah ada seseorang yang bisa mengatur dan mengarahkan anggota kelompok tersebut agar bisa mencapai tujuan kelompok dengan baik dan lancar. Seseorang itulah yang kita sebut dengan pemimpin. Di dalam kelompok, pemimpin itu memiliki peranan yang sangat penting. Menurut Warren Bennis, mengatakan kepemimpinan merupakan kekuatan di balik sukses organisasi yang akan menciptakan organisasi itu dapat hidup dan berdiri kokoh.
Dalam hubungan pemimpin dengan anggota kelompok, komunikasi merupakan salah satu pokok penting. Seorang pemimpin harus dapat berkomunikasi dengan bawahannya juga dengan atasannya. Komunikasi yang baik akan menolong menciptakan rasa kebersamaan dalam satu kelompok atau organisasi. Komunikasi yang efektif akan menghilangkan beda pengertian antara bawahan dan pimpinan maupun diantara bawahan itu sendiri. Bahkan menurut Kouzes dan Posner (1983) seorang pemimpin yang efektif ditandai oleh kemampuanya untuk membuat kelompoknya mengikuti apa yang diarahkannya dan tentu hal itu bisa terjadi dengan cara berkomunikasi yang efektif.
Seandainya suatu kelompok tidak ada komunikasi, maka kelompok tersebut pasti akan mengalami hambatan untuk mencapai tujuanya. Dikarenakan, antar anggota kelompok tersebut tidak mengetahui bagaimana cara atau arah yang tepat untuk mencapai tujuan kelompoknya. bila hal seperti ini terjadi, maka sudah pasti di dalam kelompok tersebut, hubungan antar anggota bahkan dengan pemimpinya kurang baik. Padahal kelompok yang efektif adalah kelompok yang hubungan antar anggotanya baik dan saling berkolaborasi dalam mencapai tujuan. Bagaimana mungkin suatu kelompok bisa mencapai tujuan dan memecahkan masalah yang ada tanpa adanya komunikasi di dalam kelompok tersebut. Berdasarkan kejadian di atas, maka berkomunikasi itu perlu ada di dalam kelompok untuk bisa mencapai tujuan bersama dengan cara atau arah yang tepat. karena pada umumnya, tiap individu memiliki pendapat yang sifatnya hanya dalam satu pandangan tertentu dan tentunya berbeda antar satu sama lain. dengan berkomunikasi, setiap anggota kelompok dapat saling berkolaborasi pendapat yang masing-masing memiliki pandangan berbeda. setiap pendapat memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan melihat kelebihan masing-masing pendapat, maka akan menghasilkan keputusan yang memuaskan untuk mencapai tujuanya.
Jadi, komunikasi memiliki peran yang vital dalam kelompok karena komunikasi diperlukan untuk mencapai efektifitas dalam kepemimpinan, perencanaan, pengendalian, koordinasi, latihan, manajemen konflik serta proses-proses di dalam kelompok. Dengan berkomunikasi yang efektif, maka kelompok tersebut bisa mencapai sasaran dan tujuanya dengan tetap menjaga hubungan yang baik kepada sesama anggota kelompok. Karena pada hakikatnya, suatu Kelompok bisa dikatakan efektif apabila kelompok tersebut bisa mencapai sasaran dan terdapat hubungan yang baik dengan antar anggota.

Rabu, 21 Agustus 2013

Keenganan Budaya Mengantri di Indonesia


Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna di antara ciptaannya yang lain.Karena,manusia memiliki akal pikiran dan hawa nafsu  yang tidak di miliki oleh makhluk lainnya.Manusia sangat erat hubungannya dengan kebudayaan .Hal itu karena manusia adalah bagian dari kebudayaan.Manusia pula yang menciptakan serta menjaga kebudayaan dan tanpa ada campur tangan dari manusia maka suatu kebudayaan itu akan punah. Karena pada hakikatnya budaya adalah suatu sistem cara hidup oleh manusia. Oleh karena itu tidak salah jika di katakan kebudayaan itu muncul bersamaan dengan munculnya manusia. Termasuk cara hidup manusia dalam menhadapi antrian atau yang disebut dengan budaya mengantri.
Pada Hakikatnya Budaya Mengantri ialah perbuatan yang sederhana, mudah, dan bermanfaat. Satu perbuatan mengandung berbagai manfaat yang luar biasa, yaitu hanya dengan mengantre akan melatih sikap dan sifat sabar, melatih diri untuk tidak egois, belajar tertib, belajar menghargai orang lain, berlaku sopan, menanamkan rasa malu untuk mengambil hak orang lain, menanamkan sikap tepat waktu, menampakkan budaya rapi, dan lain sebagainya.
Namun, sering kita simak di Jalan Raya, terutama di jalan yang lalu-lintasnya cukup padat oleh kendaraan bermotor dimana jalan yang dipenuhi oleh berbagai macam kendaraan seperti Sepeda Motor, Mobil, Mikrolet, Bus mulai dari Bus berukuran kecil sampai berukuran besar memenuhi jalan ketika sedang lampu merah. Akan tetapi, kita seringkali melihat, betapa tidak beraturnya antrian kendaraan yang sedang dalam posisi lampu merah. Di persimpangan yang dalam kondisi macet sedemikian rupa, justru bertambah lebih macet dikarenakan para pengemudi yang tidak sabar mengantri justru mereka harus mengantri dalam waktu yang lebih lama dan para pengemudi saling tidak mau mengalah untuk mendapatkan posisi yang mereka inginkan.
Hampir setiap hari di saat persimpangan jalan sedang macet. pengemudi lebih suka mengambil posisi yang sebetulnya justru tempat yang tidak diperbolehkan bagi para pengemudi, misalnya: para pengemudi kendaraan bermotor menempati lajur kanannya yang sebetulnya lajur tersebut adalah lajur untuk lawan arahnya. Karena lajur lawan arahnya dikuasai oleh pengemudi kendaraan bermotor yang tidak bersabar, akhirnya tidak ada jalan bagi kendaraan lawan arah untuk mendapatkan kesempatan jalan. Dan dapat disimpulkan tidak ada kesempatan bagi pengguna jalan untuk berjalan di jalan tersebut. Penyebabnya, para pengemudi kendaraan bermotor pada awalnya ingin medahului lewat lajur kanan namun karena di depan terdapat kendaraan yang juga mengantri di persimpangan, akibatnya kendaraan yang berada di persimpangan tidak bisa melewati jalan tersebut, dan kemudian disusul oleh kendaraan bermotor yang tidak bersabar mendahului dan menempati lajur kananya sampai menghalangi jalan bagi arah lawanya. Dan terjadilah kemacetan berkepanjangan yang disebabkan para pengemudi yang tidak bersabar.
Bahkan sering kita saksikan para pengemudi yang tidak bersabar dalam menghadapi antrian lebih suka menempati lajur trotoar yang padahal seharusnya trotoar tersebut dikhususkan untuk pejalan kaki. Para pejalan kaki pun merasa tidak nyaman dengan aktivitas jalan mereka oleh para pengemudi kendaraan yang menguasai tempat mereka. Terkadang perbuatan seperti inipun juga beresiko terjadi kecelakaan tabrak lari pengendara kendaraan bermotor denagn pejalan kaki. Dalam kondisi seperti ini, pejalan kaki merasa tidak ada tempat yang nyaman untuk berjalan kaki di pinggir jalan raya.
Lebih buruknya, Para pengendara yang kehilangan akal untuk bersabar dalam antrian justru melintas di daerah taman yang terdapat di jalur hijau sekitar jalan tersebut. Hal ini justru membuat taman tersebut menjadi rusak dan menjadi tidak sedap dipandang mata oleh para pengguna jalan tersebut terutama wisatawan yang sedang berlibur di tempat itu. Padahal taman di jalan tersebut didanai dengan jumlah dana yang tidak kecil dimana sumber dana tersebut berasal dari pajak masyarakat, dan kini hasil dari pajak tersebut dirusak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Berbeda dengan di negara luar, budaya mengantri diterapkan dengan sangat baik. Salah satunya seperti di Taiwan. Tidak hanya dikenal sebagai negara yang memiliki keunggulan dalam riset dan inovasi produk, tetapi negara ini juga dikenal sebagai Master Antri. Masyarakat Taiwan membudidayakan antre dengan sangat baik. Mereka bahkan mengantri secara otomatis tanpa harus ada yang mengarahkan atau mengatur barisan antrean. Dimana pun, kapanpun, dan apapun mereka secara otomatis membentuk barisan antrean secara disiplin.
Dalam hal mengantre kita juga bisa meniru segerombolan semut. Hewan kecil ini sangat piawai dalam mengatur barisannya. Tampak rapi dan teratur ketika para serangga kecil ini merayap. Semestinya kita malu dengan semut. Hewan yang tiada pikiran saja mampu bersikap teratur, malah sebaliknya kita yang diberikan akal tidak mempunyai kesadaran tinggi untuk hidup teratur.
Sangat Indah terlihat jika di negara kita juga menerapkan kedisiplinan yang tinggi. Tidak adanya kerapian tanpa adanya budaya antre. Kenyataannya negara kita sangat jauh tertinggal dalam hal ketaatan pada peraturan terutama dalam kedisiplinan mengantre. Masih banyak rakyat Indonesia yang mendominasi kepentingan individu. Hal tersebut terlihat ketika mengantre di jalan raya. Contohnya saja di daerah Jakarta yang tidak jarang mengalami kemacetan lalu lintas terlebih ketika pagi dan sore hari. Semua orang terlihat terbaru-buru seakan dikejar waktu, bahkan saat lampu merah pengemudi berhenti melewati batas garis pemberhentian. Jika ada yang tidak melewati batas garis pemberhentian, para pengemudi yang berada di belakang akan berklakson ria menyuruh untuk maju atau ada yang langsung menyelip ke depan. Terlebih ketika lampu hijau menyala, suara-suara klekson kendaraan akan bersahut-sahutan dan tak sedikit pula yang menerobos jalan. Hal-hal tersebut sangat membahayakan baik si pengendara maupun semua pengguna jalan. Itu hanyalah sepenggal fakta yang terjadi di sekitar kita, belum yang terjadi ketika mengantri pembayaran rekening listrik, mengantre di loket rumah sakit, loket kereta api, dan lain sebagainya.
Keenganan budaya antre ini tidak lain juga disebabkan oleh membudayanya jam karet di Indonesia. Orang Indonesia sebagian besar meremehkan waktu sehingga tidak memperhitungkan waktu untuk mengantri. Karena merasa terburu-buru dan dikejar waktu akibat membiasakan jam karet, kedisiplinan dalam mengatre pun tidak lagi dihiraukan.
Hal yang perlu dilakukan dalam membudi daya mengantri adalah dengan membiasakan diri untuk sabar dan tidak egois. Tanpa disadari, hal-hal kecil positif yang kita biasakan, akan banyak bermanfaat dalam berbagai situasi, terutama dalam mengantre. Selain itu pula kebiasaan dan kesadaran tersebut harus ditamankan dalam diri, sebab pada hakikatnya kebiasaan merupakan pengulangan yang berpola. Buang secara mengulang hal yang negatif yang pasti merugikan, ulangi pola yang positif, maka kebiasaan akan menjadi kekuatan yang membangun.







DAFTAR PUSTAKA :

Kamis, 27 Juni 2013

Pro dan Kontra Pemberian BLSM dan Kenaikan BBM

Keputusan pemerintah untuk mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menuai banyak argumen dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari kalangan legislatif, eksekutif hingga masyarakat itu sendiri. Tak pelak momen ini terkadang menjadi kesempatan politik untuk saling beradu argumen, baik dari pihak oposisi maupun koalisi. Masing-masing pihak menganggap pendapat yang dikemukakan adalah yang paling tepat untuk rakyat. Namun adakah maksud lain dibalik argumen yang diungkapkan?

Pandangan Pro

Tatang Hernas Soerawidjaja, dosen Program Studi Teknik Kimia ITB yang juga merupakan anggota Dewan Riset Nasional (Komisi Energi) dan Wakil Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan (METI) menyatakan bahwa pada praktiknya tujuan hakiki dari pemberian subsidi BBM di Indonesia tidak tercapai dan telah salah kaprah, serta merupakan penghamburan sia-sia anggaran negara.
“Minyak bumi dan bahan bakar fosil sebagai konsumsi pokok masyarakat kian langka dan mahal, dan masyarakat pun seharusnya siap akan pergeseran pemanfaatan sumber energi primer dari bahan bakar fosil ke sumber-sumber terbarukan, “ jelas Tatang.
Senada dengan Tatang, Aditya Prasetyo, Ketua Divisi Kajian Energi Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB mengutarakan bahwa kebijakan subsidi BBM kini sudah tidak relevan dan cacat.
“Berdasarkan data hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), 40% masyarakat menengah kebawah hanya memperoleh manfaat sebesar 13,92% saja dari subsidi BBM. Sedangkan penikmat subsidi BBM adalah 20% orang mampu dan berada di Indonesia dengan bagian 48,44%,” cetus Aditya.
Aditya berpendapat, subsidi BBM hanya akan mendorong prilaku konsumtif di masyarakat dan menyebabkan masyarakat mengkonsumsi BBM dengan boros dan ceroboh. Harga BBM yang realistis akan mendorong penghematan dan proses konversi ke sumber energi lain yang lebih bersih.

Pandangan Kontra

Bertolak belakang dengan pendapat diatas, beberapa elemen mahasiswa menolak kenaikan harga BBM. Salah satunya aksi teatrikal pembuatan replika kuburan di sekitar Bundaran Videotron di Jalan Pahlawan, Semarang, Jawa Tengah.
Bellagia Ady Nugroho, sebagai koordinator aksi mengatakan, pembangunan kuburan sebagai sindiran atas matinya hati nurani pemerintah SBY dan DPR, karena telah menaikkan harga BBM. Bellagia pula menambahkan alasan pemerintah menaikkan harga BBM untuk menekan subsidi dalam APBN dinilai tidak masuk akal.
Seharusnya pemerintah lebih mengedepankan efek kenaikan harga BBM terhadap rakyat kecil dibandingkan dengan APBN.
“Menekan subsidi hanya alasan tipu-tipu pemerintah agar masyarakat bisa menerima kenaikan BBM. Kami menolak keras hal ini,” ungkapnya.
Penolakan juga diungkapkan oleh Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. Dia menjelaskan, dampak dari kenaikan BBM sangat terasa oleh masyarakat kalangan bawah, terlebih solusi Bantuan Langsung Subsidi Masyarakat (BLSM) dirasa kurang menyasar dan bersifat sementara saja.
“Bantuan Langsung (BLSM) itu sifatnya hanya sesaat, kalau kenaikan BBM itu berlaku selamanya. Jadi bantuan langsung itu tidak ada gunanya sama sekali,” paparnya.
Sementara itu Sekretaris Kabinet (Seskab), Dipo Alam, pasca persetujuan DPR terhadap APBN-P 2013 yang berarti penyesuaian harga BBM akan segera dilakukan oleh Pemerintah mengatakan bahwa pengurangan subsidi BBM tidak hanya sekedar menyehatkan postur APBN, namun juga mengubah alokasi subsidi langsung kepada masyarakat miskin jauh lebih besar.
“Selama ini sebagian besar subsidi BBM justru dinikmati oleh kelompok masyarakat yang memiliki kendaraan mobil, yang tergolong kaya. Dengan mengurangi subsidi BBM, Pemerintah justru menambah alokasi anggaran subsidi langsung kepada masyarakat miskin,”  ujar Seskab.
Pemerintah, lanjut Seskab, mengubah subsidi BBM yang tidak tepat sasaran itu menjadi subsidi yang lebih tepat dengan cara memberikan langsung kepada masyarakat miskin.
“Program-program perlindungan sosial yang selama bertahun-tahun ini sudah berjalan, seperti program Raskin,  Program Keluarga Harapan (PKH), dan Bantuan Siswa Miskin (BSM) diperluas cakupannya dan ditingkatkan besarannya,”  ungkap Seskab.

Selain Itu, Bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) sebagai kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai tak lebih sebagai drama politik jelang Pemilu 2014. BLSM pun dinilai tak beda dengan bantuan langsung tunai (BLT) menjelang Pemilu 2009.

“Kenaikan BBM dan pemberian BLSM itu menjadi drama politik, seolah-seolah menjadi suatu pembenar untuk menunjukkan iklan politik bahwa rakyat memang perlu BLSM,” kata Wakil Sekretaris Jendral PDI Perjuangan Hasto Kristianto, usai menjadi pembicara dialog kebangsaan ‘Mewujudkan Pemilu 2014 Bersih, Berkualitas, dan Bermartabat’ yang diselenggarakan Bawaslu di Hotel Grand Sahid Jaya, Selasa (25/6/2013). 

Hasto mengungkapkan, sebelum pelaksanaan Pemilu 2009 lalu, pemerintah juga menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2008. Ketika itu, pemerintah pun mengucurkan BLT sebagai kompensasi. “Pada bulan juni 2008-februari 2009 diberikanlah dana BLT yang jumlahnya begitu besar, di situ motif politiknya begitu besar daripada kompensasi kepada rakyat akibat kenaikan BBM,” tegasnya. 

Menurut Hasto, kenaikan harga BBM juga lebih disebabkan karena tata kelola kebijakan keuangan pemerintah yang berantakan, bukan karena imbas kenaikan harga minyak dunia. Kalaupun harga BBM harus naik dan masyarakat perlu kompensasi, tambah dia, bentuk yang tepat bukan BLSM melainkan pembukaan lapangan kerja baru.

BLSM, tegas Hasto, secara tidak langsung mendidik masyarakat untuk menjadi pribadi malas. Terlebih, BLSM yang diberikan pemerintah sifatnya hanya sementara. “Konteksnya, menjadi tugas pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat, bukan untuk mengkompensasikan penderitaan rakyat yang sifatnya hanya sementara,” papar dia.


Berbagai argumen ini memperlihatkan bahwa pro kontra memang selalu terjadi. Terlebih momen mendekati pemilu, BBM selalu saja menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Masing-masing pihak saling mengklaim pendapatnya demi kepentingan rakyat. Tidak tahu ada apa dibalik argumen masing-masing pihak, pureuntuk kesejahteraan rakyat atau malah menyengsarakan rakyat. Mari kita kawal bersama, bagaimana yang akan terjadi pasca kenaikan BBM bersamaan dengan disertujuinya APBN-P 2013. BBM naik bukan akhir dari segalanya.

Sumber :
http://politik.kompasiana.com/2013/06/25/pro-kontra-penikmat-subsidi-bbm-adakah-kepentingan-terselubung-572097.html
http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/1630/1/Pro.Kontra.Kenaikan.Harga.BBM.